Konsep Cinta dan Kasih Sayang

tidak ada komentar
cinta
Perasaan Kasih Sayang merupakan anugrah dari sang Pencipta salah satu kesempurnaan yang ada pada diri manusia. Dengan rasa kasih sayang, seseorang dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain. Dan dengan rasa kasih sayang tersebut mereka berusaha untuk menghilangkan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain. Tanpa rasa kasih sayang manusia akan turun derajatnya sehingga setara dengan hewan. Bahkan lebih buruk dari hewan, karena hewan masih memiliki rasa kasih sayang seperti seekor induk ayam rela mengerami telur-telur hingga menetas. Ketika telah lahir, anak-anaknya pun tidak dibiarkan begitu saja. Mereka diajari untuk mencari makan, bertahan untuk hidup, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kekejaman merupakan kemunduran dari fitrah manusia dan merosotkan kedudukannya ke tingkat nafsu hayawaniyah (hewani) dan bahkan lebih jauh lagi ke tingkat benda yang tidak berkesadaran dan tidak bergerak.


Merupakan suatu yang tidak dapat dipungkiri bahwa sifat ini dapat membuat orang turut serta merasakan penderitaan orang lain, turut merasa gembira bila melihat orang lain senang yang dapat mempersatukan individu manusia menjadi satu tubuh, satu hati, dan satu semangat. Apabila sifat ini telah tertanam dalam jiwa seseorang, maka betatapun besarnya kesulitan yang dihadapi tentu dapat teratasi. Tetapi sebaliknya, betapapun bagus dan rapinya sistem pemerintahan yang ada di dunia ini tidak akan banyak manfaatnya jika tidak didasari dengan rasa kasih sayang.

Manusia bukanlah malaikat yang selalu berbuat kebaikan. Dan manusia juga bukan syetan yang selalu melakukan dan mengajak kepada hal-hal yang buruk. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang memiliki daya tanggap dan perasaan, mempunyai keinginan, hasrat dan harapan.
Ungkapan dan ekspresi kasih sayang adakalnya nampak formal dan adakalanya tidak terlihat (abstrak) karena kasih sayang adalah cerminan dan refleksi hati. Kasih sayang bukanlah rasa kasihan tanpa disertai akal pikiran yang sehat (rasional) dan bukan pula rasa kasihan tanpa mengindahkan keadilan dan ketertiban. Bukan kasih sayang yang membabi buta, tanpa batas sehingga menyepelekan norma dan tanpa dasar ajaran yang jelas. Kasih sayang justru merupakan ungkapan perasaan yang wajib mengindahkan dan menghargai kewajiban tersebut di atas.
Hal yang paling membahagiakan adalah ketika kita bisa saling mencintai dengan sesama kita, dimana cinta itu berdasarkan kemuliaan dan keagungan. Dengan cinta tersebut, kita akan dihantarkan menuju singgasana tertinggi yang penuh kenikmatan. Singgasana itu berada di dalam istana di atas istana, cinta di atas cinta, yaitu cinta yang tumbuh karena cinta dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Pemahaman orang modern bahwa cinta adalah kebebasan tanpa ikatan serta pelepasan nafsu hewaniyah telah menjerumuskan mereka dalam kehidupan yang penuh kegoncangan, individualistik, ketidaktenangan,dan belenggu nafsu.

Cinta seharusnya dapat menjadi jembatan bagi iman, karena dengan cinta hati dan jiwa manusia yang begitu beragam warna dan rasa serasa terhubung dengannya. Cintalah yang kemudian membawa kita pada silaturahim dan saling bertaaruf satu sama lain.

Akan tetapi sehebat apapun kita merencanakan sesuatu. Tetap rencana Allah adalah sebaik-baiknya rancangan.

Allah telah menjamin hamba-Nya yang mampu mencintai seseorang semata-mata mengharap ridha-Nya dengan keteduhan dan kenyamanan kelak di hari kiamat. Salah satu tanda kebesaran Allah adalah diciptakannya segala sesuatu dengan sistem keteraturan dan keseimbangan yang sangat hebat, apalagi tentang cinta. Cinta telah dilahirkan untuk sebuah konsistensi dan teratur bersemayam dalam hati. Keindahan cinta akan terus terpancarkan bila sistem hati dijaga dengan baik keteraturannya, sehingga cemburu, curiga dan patah hati tidak akan pernah ada.

Setiap orang yang dilanda cinta sesama makhluk tentu merasa sangat bahagia, meski tidak jarang ada juga yang berakhir dengan duka dan kecewa. Oleh sebab itu, harus bisa mengendalikan cintanya agar cintanya kepada sesama makhluk tidak sampai mengabaikan cintanya kepada sang Pencipta, Allah swt.

Allah maha membolak-balikkan keadaan, apa yang dialami orang lain, bisa saja kita alami, jangan mencela siapapun

Cinta adalah perwujudan dari naluri dan Naluri ini jelas berbeda dengan kebutuhan jasmani dalam soal pemenuhannya. Pemenuhannya untuk kebutuhan jasmani mutlak dipenuhi. Seperti harus makan ketika lapar atau harus minum ketika haus. Lain halnya dengan naluri, pemenuhannya tidak mutlak. Meskipun tidak dipenuhi, tidak akan menyebabkan kematian. Hal yang mungkin timbul hanyalah gelisah. Akan tetapi, sebenarnya seseorang tidak perlu gelisah ketika kebutuhan nalurinya tidak terpenuhi, karena kegelisahan dapat berpengaruh pada kemampuan konsentrasi pikiran. Ketika seseorang gelisah, pikiran akan terpecah-pecah.

Cinta bukan tentang bagaimana perasaan itu muncul.. Tapi bagaimana perasaan itu agar tetap utuh

Selanjutnya, mengenai asal pengaruh rangsangannya juga berbeda. Kebutuhan jasmani ada dalam tubuh, sedangkan naluri dari luar. Oleh karena itu, naluri mempertahankan jenis ini tidak akan meluap-luap jika belum ada pengaruh dari luar. Contohnya, seseorang tidak akan jatuh cinta kepada lawan jenis bila ia tidak pernah tahu informasi tentang orang tersebut. Pada intinya, tidak diperbolehkan mendasari perilaku atas nama cinta sehingga mengakibatkan kelalaian terhadap aturan dari Allah dan rasul-Nya.
Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia. Pada umumnya, tidak seorangpun di dunia ini yang tidak ingin dicintai. Manusia yang normal tentu menginginkan kedua hal tersebut. Namun, yang menjadi persoalan ialah tidak setiap orang mampu mengendalikan dan menyikapi rasa cinta yang ada. Bahkan, tidak sedikit orang yang akhirnya diperbudak oleh cinta. Cinta adakalanya kepada Allah dan rasul-Nya, kepada orang tua, sahabat, dan juga kekasih. Lalu, kemana seharusnya cinta sejati itu ditujukan?

Terkadang engkau harus berbicara pelan.. Agar engkau tahu siapa yang masih mau mendengarkanmu.

Satu hal yang menjadi kendala dalam usaha membangun kualitas diri adalah menyamakan cinta dunia dan cinta kepada Allah. Padahal, kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipersatukan, seperti air dan minyak. Manusia diperbolehkan untuk hidup kaya dengan memiliki rumah yang bagus, mobil dan harta yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak boleh membuat hati terbelenggu kepadanya. Sehingga harta tidak menjaga pemiliknya dalam beribadah, justru pemiliknya disibukkan dengan menjaga hartanya. Sebaiknya, dunia ini dijadikan tempayan tempat setiap orang menyajikan amal saleh sebagai wujud cinta dan pengabdian kepada Allah swt.
Cinta pada akhirnya dapat memberikan efek kepada setiap orang yang merasakannya dengan sikap sopan dan santun. Mencintai sesungguhnya adalah jalan bagaimana kita merawat, menjaga dan memberikan kesempatan untuk berekspresi dengan baik kepada subjek yang dicintai. 
Di sinilah Allah menunjukkan kepada kita bahwa kesopanan merupakan kesadaran bagaimana kita bisa merawat subjek yang kita cintai itu. Itulah cinta yang luhur. Tak sedikit orang yang menempatkan sesuatu atau orang yang dicintainya sebagai objek kepemilikan yang bebas untuk dieksploitasi. Sungguh, itu bukanlah cinta luhur yang akan memberikan keselamatan. Santun adalah bukti dari rasa cinta kasih. Mencintai dan mengasihi tidak cukup hanya dalam perkataan, tetapi mesti dinyatakan dalam tindakan. Maka, sebaiknya cinta kasih dibuktikan dengan sikap santun dan menghargai kepada sesama makhluk Tuhan. Dengan demikian, kehidupan sunnatullah akan terjaga.


Sumber : http://www.tongkronganislami.net

IKLAN SPNSOR DARI ADNOW
loading...

"Pembaca yang terhormat, setelah membaca Konten silahkan berikan saran dan memberikan umpan balik yang bersifat membangun, Silakan Tulis Komentar yang Relevan dengan Bahasa yang Sopan. Komentar anda mengilhami saya untuk terus ngeblog. Pendapat anda jauh lebih berharga bagiku. Terima kasih".