Hidup Sederhana adalah kunci meraih kebahagiaan hidup

tidak ada komentar
bahagia itu sederhana
Kesederhanaan bersabar dan bersyukur adalah kunci untuk meraih kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Ada kalanya hal  yang kecil dan terlihat sepele, bisa saja mendatangkan kemuliaan yang sangat  besar. Pada intinya adalah untuk meriah kehidupan yang sederhana, jangan pernah meremehkan hal apapun.
Jika kita mampu untuk hidup sederhana, maka paling  tidak kita telah berhasil meraih kebahagiaan atas jiwa, nurani, dan diri kita. Hal ini mengingatkan kita akan sebuah pesan dari kata kata bijak islami :

Artinya: Dari Ibnu ‘Umar Ra,
Rasulullah Saw bersabda: berlaku hemat (ekonomis) itu adalah separuh dari kehidupan. (HR. al-Syihab)

Hidup bukanlah tentang bagaimana menemukan diri kita tetapi bagaimana menciptakan diri kita yang sebenarnya.

Pada saat dalam keadaan lapang, maka ketahuilah bahwa kehidupan merupakan kesempatan yang harus dipakai, jangan pernah lalai untuk menggunakannya.

Contohnya dalam hal pakaian Islam melalui tauladan pola hidup Nabi Muhammad s.a.w. yang mengajarkan umat manusia untuk hidup hemat dan sederhana serta menjauhi  glamornya dunia yang boros dan menghambur-hamburkan harta. Rasulillah s.a.w. mencontohkan gaya hidup sederhana mulai dari kebutuhan pokok makan dan pakaian.

3335 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ: هَلْ رَأَيْتَ النَّقِيَّ؟ قَالَ: «مَا رَأَيْتُ النَّقِيَّ، حَتَّى قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» فَقُلْتُ: فَهَلْ كَانَ لَهُمْ مَنَاخِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: «مَا رَأَيْتُ مُنْخُلًا، حَتَّى قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» ، قُلْتُ: فَكَيْفَ كُنْتُمْ تَأْكُلُونَ الشَّعِيرَ غَيْرَ مَنْخُولٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ كُنَّا نَنْفُخُهُ، فَيَطِيرُ مِنْهُ مَا طَارَ، وَمَا بَقِيَ ثَرَّيْنَاهُ»
__________
[حكم الألباني] صحيح



Yang artinya :
… Abi Khazim meriwayatkan: Saya bertanya pada Sahel bin Sa’d: “Apakah engkau tepung gandum yang halus?. Sahl menjawab: “Saya tidak pernah melihat tepung gandum halus (di rumah nabi) sampai Rasulullah s.aw. wafat”. Apakah mereka memiliki ayakan pada masa Rasulillah s.a.w.? Saya tidak pernah melihat ayakan (di rumah nabi) sampai Rasulullah s.aw. wafat”. Saya (Sa’d bertanya: “bagaimana kalian makan gandum yang tidak diayak?” Sahl menjawab: “Ya, Kami hanya meniupi kemudian mengambil yang tersisa dan apa-apa yang tertinggal kami memasaknya”.
[Hadist Sunan Ibnu Majah No. 3335 Kitabulath’imah]
IKLAN SPNSOR DARI ADNOW
loading...

"Pembaca yang terhormat, setelah membaca Konten silahkan berikan saran dan memberikan umpan balik yang bersifat membangun, Silakan Tulis Komentar yang Relevan dengan Bahasa yang Sopan. Komentar anda mengilhami saya untuk terus ngeblog. Pendapat anda jauh lebih berharga bagiku. Terima kasih".